DERITA
MAHASISWA SAAT PANDEMI COVID-19
Siapa si yang tak tau
dengan Corona Virus/ Covid-19? Hampir semua orang bahkan seluruh dunia pasti
tau dengan virus yang sedang ramai-ramainya dibicarakan ini. Covid-19 atau
virus corona adalah keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu
biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti sindrom pernafasan akut ( SARS ) dan sindrom pernafasan Timur Tengah
( MERS ). Virus corona yang muncul sekarang adalah virus corona baru yang
diidentifikasi oleh otoritas China pada 7 Januari yang bernama SARS-Cov-2,
jenis baru yang sebelumnya tidak diidentifikasi pada manusia.
Sejak virus itu masuk
ke Indonesia dan sedang ramai-ramainya di perbincangkan oleh beberapa Negara
bahkan hampir seluruh dunia. Presiden Joko Widodo mengimbau masyarakat untuk
mengurangi aktivitas diluar rumah demi menekan penyebaran virus Corona covid-19
di Indonesia. Jokowi mengimbau agar kegiatan seperti bekerja, beribadah dan
belajar baiknya dilakukan di rumah.
Salah satu yang menjadi
dampak dari pandemi covid-19 ini adalah pembelajaran yang dilakukan secara
online ( daring ) / belajar dirumah. Banyak yang mengeluh dengan sistem
pembelajaran ini lebih-lebih para mahasiswa.
Dengan sistem pembelajaran daring ini menurut mereka tidak efektif
karena banyak / hampir semua dosen memberi materi namun tidak menjelaskannya,
mereka hanya memberi tugas setiap pertemuan bahkan ada yang dari awal pertemuan
sampai akhir tidak pernah menjelaskan materi. Tentu ini sangat berpengaruh
terhadap mahasiswa, dengan seperti itu mereka tidak akan paham dengan materi
yang sudah diberi karena dosen tidak menjelaskan. Lalu kendala dengan kuota /
sinyal, tidak semua mahasiswa bisa lancar saat mengikuti pembelajaran daring
terkadang ada yang terkendala karena sinyal, paket kuota habis atau karena ada
urusan dadakan. Yang pertama karena sinyal, jika tempat tinggal mereka di
perkotaan sudah di pastikan sinyal lancar namun berbeda dengan mereka yang
tinggal di pedesaan apalagi di dataran tinggi yang jarang ada tower. Yang kedua
karena paket kuota habis, terkadang jika paket kuota habis, ada saja mereka
yang tidak enak hati meminta uang pada orang tuanya untuk membeli paket kuota
karena sedang kondisi seperti ini ada saja mereka yang keluarganya sedang
menurun ekonominya. Yang ketiga karena urusan mendadak contohnya terkadang ada mereka
yang sedang melakukan pembelajaran daring tiba-tiba disuruh oleh ibu atau
keluarganya, terkadang juga ada yang ingin pergi namun bentrok dengan jadwal
kuliah. Ketiga ini yang biasanya kendala dari pembelajaran daring.
Selain yang tadi,
kendala yang lainnya adalah berasal dari dosen lagi yaitu terkadang ada dosen yang
masuk bukan pada jam mata kuliah nya. Dan yang lebih menyebalkan lagi ketika
sudah beberapa minggu menghilang, materi tidak jelas sampai mana dan sebelumnya
juga tidak pernah dijelaskan materinya, tiba-tiba malam-malam ketika waktu
istirahat, dosen tersebut malah memberi materi pada jam yang bukan jadwalnya. Tentu
ini sangat merugikan bagi mahasiswa karena bagi mereka tindakan yang dosen
lakukan itu seenaknya sendiri.
Tidak bisa dipungkiri,
kegiatan pembelajaran daring/ kuliah online yang dilakukan seperti sekarang ini
materi yang diberikan dosen lebih susah untuk diserap karena kita hanya
memahami lewat file yang dosen berikan tanpa penjelasan detail seperti halnya
ketika kuliah tatap muka. Dan tidak semua dosen ahli / dapat menggunakan
teknologi secara maksimal hal ini sering terjadi apalagi pada dosen yang
berumur karena perlu waktu bagi mereka untuk mempelajari sistem pembelajaran
daring ini. Kalau dosen yang mudah kebanykan sudah bisa menggunakan teknologi
untuk pembelajaran daring ini. Namun pendapat tersebut tidak semua dosen yang
berumur atau yang muda seperti itu, itu hanya kebanyakan dari dosen seperti
itu.
Solusi untuk menuntaskan derita para mahasiswa
ini sepertinya tidak ada karena satu-satunya hanya dengan kuliah normal lagi/
pembelajaran di kelas sedangkan situasi dan kondisi sekarang ini tidak
memungkinkan untuk mahasiswa bisa kuliah normal, karena jumlah penderita
covid-19 pun bukan malah menurun malah tiap hari makin menambah. Bahkan gubernur
Jawa Barat, Ridwan Kamil memberitahu bahwa sekolah yang berada di Jawa Barat
akan dibuka kembali/ aktivitas normal pada bulan Januari tahun 2021. Hal ini
membuktikan bahwa di situasi Indonesia memang belum membaik dan belum bisa
normal. Walaupun presiden Jokowi memberitahu akan diadakan nya sistem New
Normal bukan berarti semuanya menjadi normal, tindakan ini beliau lakukan
karena semakin menurunnya ekonomi masyarakat Indonesia karena wabah covid-19. Dan
sistem new normal tidak seluruh provinsi / kota melakukannya , ada 102 wilayah
di Indonesia yang melakukan sistem ini, tentunya dengan pertimbangan yang
sangat matang dan ada krtieria yang menjadikan 102 wilayah ini terpilih salah
satunya adalah sudah zona hijau positif covid-19 atau sudah aman. Jadi dengan
di berlakukannya sistem new normal ini bukan berarti semuanya normal,
sekolah-sekolah atau perguruan tinggi juga masih menggunakan pembelajaran
daring. Harapan seluruh masyarakat dunia tentunya Indonesia, semoga wabah
covid-19 ini cepat berlalu, agar kita semua bisa beraktivitas/ hidup normal
lagi seperti biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar